I.
Sejarah
dan Pengertian Desain Komunikasi Visual
Sebelum
dikenal dengan sebutan Desain Komunikasi Visual (DKV), bidang ilmu ini lazim
disebut desain grafis. Jangkauan desain grafis yang hanya berorientasi pada
grafis dwimatra dianggap kurang pas untuk mendefinisikan semakin beragamnya
media yang menggunakan komunikasi visual berbasis IT. Istilah DKV muncul ketika
desain grafis semakin intensif bersentuhan dengan teknologi digital.
Perkembangan teknologi dan komunikasi yang semakin pesat mempengaruhi tumbuhnya
bermacam kebutuhan informasi dan media visual (multimedia) yang memerlukan
ketrampilan di bidang komunikasi visual.
Desain
grafis saat ini tidak hanya menyangkut unsur-unsur grafis sehingga Supriyono
(2010:9) berpendapat bahwa dalambeberapa kasus istilah DKV dianggap lebih dapat
menampung perkembangan desain grafis yang semakin luas. Desain komunikasi visual adalah suatu disiplin
ilmu yang bertujuan mempelajari konsep-konsep komunikasi serta ungkapan kreatif
melalui berbagai media untuk menyampaikan pesan dan gagasan secara visual
dengan mengelola elemen-elemen grafis yang berupa bentuk dan gambar, tatanan
huruf, serta komposisi warna dan layout (tata letak/perwajahan). Dengan
demikian gagasan bisa diterima oleh orang atau kelompok yang menjadi sasaran
penerima pesan (Kusrianto, 2007:2). Desain komunikasi (communication design)
merupakan subdisiplin dari desain yang menitikberatkan pada penyampaian
informasi kepada publik melalui media (Supriyono, 2010). Desainer komunikasi
visual bekerja berdasarkan design brief yang diarahkan klien, sehingga ia tidak
bisa semaunya sendiri menentukan ukuran, media, warna, teknik dan material.
Produk atau karya DKV dapat kita jumpai di mana-mana dalam keseharian kita,
seperti iklan (media massa cetak atau elektronik), internet, poster, signboard,
katalog, brosur, kartu nama, kemasan, baliho hingga animasi dan lain-lain.
Di Indonesia, Desain grafis
dan cabang desain lainnya hadir berkat digalakannya kolonilaisasi. Pada masa
pendudukan Belanda, pemerintahannya pernah menunjuk beberapa seniman untuk
melakukan studi landscape di Indonesia untuk merekam eksotisme negara ini yang
kemudian dituangkan dalam karya lukisan yang berkesan romantis dan beberapa
teknk cetak seperti wood engravingdan lithography. Karena memang pada masa ini seni
rupa Barat sedang merayakan romantisme yang kajian visualnya seringkali
ditujukan pada landscape dan peristiwa heroik, yang dikenal dengan istilah
‘mooi indie’, atau hindia yang cantik. Berangkat darinyalah desain grafis mulai
diperkenakan secara tidak langsung kepada rakyat Indonesia. penguasaan teknik
cetak pun bukan dari akademi, namun sebatas dari obrolan dan interaksi dengan
orang asing. Mesin cetak pertama kali di datangkan ke pulau Jawa pada tahun
1659. Karena tidak ada operatornya, mesin itu menganggur sampai berpuluh-puluh
tahun. Tujuan misionaris mendatangkan mesin cetak erat kaitannya dengan niat
mereka untuk mencetak kitab suci dan buku-buku pendidikan Kristen. Selain
mencetak kitab suci, mereka juga menerbitkan surat kabar berhaluan pendidikan
Kristen. moving image,display dan
pameran. Sejak tahun 1979, istilah desain komunikasi visual mulai dipakai
menggantikan istilah desain grafis.
Akhir 1970 dan seterusnya,
tumbuh perusahaan-perusahaan desain grafis yang sepenuhnya dipimpin oleh
desainer grafis. Berbeda dengan biro iklan, perusahaan-perusahaan ini
mengkhususkan diri pada desain-desain non-iklan, beberapa di antaranya adalah
Vision (Karnadi Mardio), Grapik Grapos Indonesia (Wagiono Sunarto, Djodjo
Gozali, S Prinka dan Priyanto Sunarto), Citra Indonesia (Tjahjono Abdi dan
Hanny Kardinata) dan GUA Graphic (Gauri Nasution). Di Bandung sebelumnya sudah
ada design center Decenta yang didirikan pada tahun 1973, antara lain oleh AD
Pirous, T Sutanto, Priyanto Sunarto, yang walau lebih mengandalkan pada
disiplin seni grafis juga menangani beragam produk desain grafis, mulai sampul
buku, kartu ucapan, logo, kalender, pameran dan elemen estetis gedung.
Periode awal 1980 mencatat
perkembangan jumlah perusahaan desain grafis yang cukup signifikan di Jakarta,
antara lain: Gugus Grafis (FX Harsono, Gendut Riyanto), Polygon (Ade Rastiardi,
Agoes Joesoef), Adwitya Alembana (Iwan Ramelan, Djodjo Gozali), dan di Bandung:
Zee Studio (Iman Sujudi, Donny Rachmansjah), MD Grafik (Markoes
Djajadiningrat), Studio “OK!” (Indarsjah Tirtawidjaja dkk), dll.
Menjelang akhir 1990-an,
konsepsi baru seni global yang diberi tajuk postmodernisme yang digalakan
sampai sekarang ini membawa arus perubahan dan kebaruan yang radikal dan kritis
pada seni rupa Indonesia, tidak terlepas seni grafis. Penyampaian idea yang
dimiliki seiman pada karya dituangkan pada media
dan material yang dianggap tidak lazim pada masanya. Seperti lahirnya
performance art, instalasi, dan media lainnya yang unik dan mengundang
kontroversi. Seperti pada Bienalle IX Jogja yang sebagian besar karyanya merayakan
kehadiran potmodernisme dengan menjatuhkan pilihan pada instalasi. Meskipun
begitu, seniman grafis tetap mencoba memadukan teknik grafis dengan media asing
yang dinamai instalasi, sepreti yang dilakukan Marida Nasution pada pameran
‘Taman Plastik’, Tisna Sanjaya dengan instalasinya yang berjudul ‘Seni Grafis
dan Sepakbola’, dan beberapa seniman lainnya yang mencoba tetap menyisipkan
corak seni grafis yang membentuk proses penciptaan karyanya bersanding dengan
arus deras kritisisme postmodernisme.
II.
Perbedaan
Desain Komunikasi Visual dan Seni Murni
Desain Komunikasi Visual sebagai seni rupa
terapan adalah bentuk seni yang penerapannya berlaku secara umum dalam bentuk
komunikasi visual. Sedangkan Seni murni merupakan ekspresi
jiwa yang bersifat individual, subjektif, dan lebih ditujukan kepada kepuasan
terhadap karya, bukan terhadap fungsi.
Hal itu lah yang membuat desain komunikasi
visual berbeda dengan seni murni. Sebuah karya seni lebih bersifat
ekspresif dan tidak punya tujuan secara umum. Seni bersifat individual dan
berorientasi kepada ekspresi dan kepuasan dari pembuatnya (seniman). Sedangkan desain grafis berorientasi kepada kegunaan atau fungsinya. Desain grafis yang baik akan
dilihat dari seberapa besar impact dari karya yang dihasilkannya.
III.
Elemen-elemen
Desain Komunikasi Visual
1. Layout
Layout adalah merupakan
pengaturan yang dilakukan pada buku, majalah, atau bentuk publikasi lainnya,
sehingga teks dan ilustrasi sesuai dengan bentuk yang diharapkan (Graphic Art
Encyclopedia, 1992:296).
Lebih
lanjut dapat dikatakan bahwa: “Layout includes directions for marginal data,
pagination, marginal allowances, center headings and side head, placement of
illustration.” Layout juga meliputi semua bentuk penempatan dan pengaturan
untuk catatan tepi, pemberian gambar, penempatan garis tepi, penempatan ukuran
dan bentuk ilustrasi. Menurut Smith (1985) dalam Sutopo (2002:174) mengatakan
bahwa proses mengatur hal atau pembuatan layout adalah merangkaikan unsur
tertentu menjadi susunan yang baik, sehingga mencapai tujuan.
2.
Tipografi
Seni
memilih huruf, dari ratusan jumlah rancangan atau desain jenis huruf yang
tersedia, menggabungkannya dengan jenis huruf yang berbeda, menggabungkan
sejumlah kata yang sesuai dengan ruang yang tersedia, dan menandai naskah untuk
proses typesetting, menggunakan ketebalan dan ukuran huruf yang berbeda.
Tipografi yang baik mengarah pada keterbacaan dan kemenarikan, dan desain huruf
tertentu dapat menciptakan gaya (style) dan karakter atau menjadi karakteristik
subjek yang diiklankan (Frank Jefkins, 1997:248)
3.
Ilustrasi
Ilustrasi
dalam karya desain komunikasi visual dibagi menjadi dua, yaitu ilustrasi yang
dihasilkan dengan tangan atau gambar dan ilustrasi yang dihasilkan oleh kamera
atau fotografi (Wirya, 1999:32).
4. Simbolisme
Simbolisme
sangat efektif digunakan sebagai sarana informasi untuk menjembatani perbedaan
bahasa yang digunakan karena sifatnya yang universal dibanding kata-kata atau
bahasa. Bentuk yang lebihh kompleks dari simbol adalah logo. Logo merupakan
identifikasi dari sebuah perusahaan karena logo harus mampu mencerminkan citra,
tujuan, jenis, serta objektivitasnya agar berbeda dari yang lainnya. Banyak
iklan memiliki elemen-elemen grafis yang tidak hanya terdapat ilustrasi, tetapi
juga terdapat muatan grafis yang penting seperti logo perusahaan atau logo
merek, simbol perusahaan, atau ilustrasi produk (Farbey, 1997:91).
5.
Warna
Warna
merupakan elemen penting yang dapat mempengaruhi sebuah desain. Pemilihan warna
dan pengolahan atau penggabungan satu dengan lainnya akan dapat memberikan
suatu kesan atau image yang khas dan memiliki karakter yang unik, karena setiap
warna memiliki sifat yang berbeda-beda.warna adalah salah satu dari dua unsur
yang menghasilkan daya tarik visual, dan kenyataannya warna lebih berdaya tarik
pada emosi daripada akal (Danger, 1992:51).
S
6. Suara
Suara
merupakan elemen pendukung yang digunakan untuk lebih menghidupkan suasana
interaksi. Dalam multimedia interaktif, suara dibedakan menjadi dua, yaitu
suara utama dan suara pendukung. Suara utama adalah suara yang mengiringi
pengguna selama interaksi berlangsung, sedang suara pendukung merupakan suara
yang terdapat pada tombol-tombol
Referensi Pustaka
Ni Nyoman Sri Witari, Drs. I Gusti Nyoman Widnyana. 2014. Desain
komunikasi Visual. Yokyakarta: Graha Ilmu.